Budaya

“Budaya”
Entah kenapa tiba-tiba gua terpikir satu kata itu. Ya, memang walaupun cuma satu kata, tapi memiliki pengaruh penting sebagai jati diri bangsa. Budaya, gua berfikir lagi.. Seberapa penting sih budaya ini bagi sebuah negara.. Dan gua mendapat jawabannya, yaitu
PENTING
Budaya merupakan cerminan sebuah bangsa, selain sebagai jati diri bangsa, budaya mencerminkan betapa beragamnya kehidupan bernegara, penuh warna dan kreatifitas. Coba kita lihat budaya jepang, dengan dipenuhinya bangunan megah, mereka tetap bangga membangun kemegahannya dengan design budayanya.. Bajunya, siapa yang tidak kenal kimono.. Sushi nya, ramen dll.
Korea,
Siapa yang tak kenal dengan Budaya K-popnya.. Makanan khasnya kimchi.. Dan baju khas daerahnya..
India,
Dengan tarian khas bolliwoodnya.. Baju khas nya.. Kari nya dan masih banyak lagi.
Turki,
Makanan khasnya kebab, tarian turki dan tulisannya..
Cina,
Dengan piring keramiknya, baju khas nya, barongshainya dan lain-lain..
Budaya identik dengan negara itu sendiri. Dengan adanya budaya, identitas sebuah bangsa menjadi dikenal. Dengan adanya budaya sebuah bangsa memiliki karakteristik tersendiri. Maka tidak heran kalau malaysia banyak mengklaim budaya Indonesia, sebenarnya bukan cuma budaya Indonesia yang di klaim.. Malaysia juga sering klaim budaya thailand dan negara lainnya.. Kenapa? Karena itu tadi.. “Karakteristik” yang merupakan cerminan sebuah bangsa.. Semegah apapun sebuah negara, tapi kemegahan itu tak memiliki arti kalau tidak ada unsur budaya di dalamnya.. Coba saja berjalan di central market kuala lumpur, disana penuh dengan ornamen khas jawa.. Petaling street, ornamen cina semua.. Bahkan malaysia memiliki souvenir baju dengan gambar dan tulisan “batik malaysia”.. Padahal dunia tahu kalau batik merupakan milik Indonesia.. betapa penting dan urgensinya budaya. Maka banyak cara yang dilakukan untuk mendapatkan budaya itu sendiri walau dengan cara yang salah. Tapi dari situ kita lihat, bahwa budaya memiliki peran penting dan memiliki daya tarik besar bagi sebuah negara..
Jadi? bangga kah kalian dengan budaya kalian?
Kalau saya, menjawab YES, iya maksudnya.. Hha

No cry, only celebrate

celebrate your life.. make plans and be the act, just do it

by me

Semua orang berhak berkarya, dan semua orang berhak untuk dihargai. Semua orang berhak maju, dan semua orang berhak untuk berhasil. Tapi, tidak ada satu orangpun yang berhak untuk dengki akan semua hal itu.

Love or ?

Cinta itu bagaikan teka-teki..
Kadang pasti, kadang membingungkan.. Tapi itu lah ciri khasnya..
Di saat yg lain datang menanti,
Tpi mengapa ak mash tak bisa berpaling darinya..
Di saat yang lain memberikan cintanya pada ku,
Tpi knapa ak hanya mengharapkan cintanya..
Apakah cinta ini sebuah ilusi atau harapan..
Cinta itu memang teka-teki :)
Hanya waktu yang dapat menjawab

Taken with instagram

Taken with instagram

I like this photo, cute.. Hhe

I like this photo, cute.. Hhe

Rangkaian

Ada yang haus akan kasih sayang ayah, tapi ada juga yang tidak mengiraukan kasih sayang ayahnya. Seandainya mereka ditukar, pasti betapa senangnya mereka. Tapi bukan itu penyelesaiannya. Yang harus dilakukan adalah mensyukuri. Apa yang kita dapatkan, mungkin itu yang dipilihkan oleh Tuhan sebagai yang terbaik untuk kita. Bukan berarti Tuhan itu tidak adil melainkan ego kita yang menginginkan semua berjalan sesuai keinginan kita. Lihatlah ke bawah, maka kamu akan bersyukur. Lihatlah ke atas, maka kamu akan berjuang. Lihatlah kesamping, maka kamu akan tersenyum. Lihatlah kebelakang, pasti kamu akan terpacu, dan lihatlah kedepan, maka kamu akan berlari. Tak ada satu patah kata pun yang dapat mematahkan semangaat, untuk menjadikan diri menjadi lebih baik. Karena manusia diciptakan dari tanah. Tanah yang memiliki filosofi sebagai tempat tumbuh, bangkit, menyerap dan mengeluarkan. Baik tanah rill maupun diri kita, Keduanya memiliki folosofi tersebut. Maka, sebagai karunia yang baik. Bertindaklah bagaikan tanah, walau terinjak dan diinjak tetap ada dalam posisinya, tidak pernah lari dari masalah apalagi menyesali perbuatan. Keep spirit, give the best and always move on.
Regards,
Gandy P Putra

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi SAW, salah satu dari yang di wahyukan dari Tuhannya ‘Azza wa Jalla, adalah sabdanya, “telah berbuat dosa seorang hamba dengan suatu perbuatan maksiat/dosa, kemudian dia berkata, Ya Tuhanku ampunilah bagiku dosaku. Maka Allah tabaraka wa ta’ala berfirman, ‘hambaku telah berbuat dosa dengan suatu perbuatan dosa, dan dia mengetahui bahwa Tuhannya maha mengampuni dosa dan menghukum perbuatan dosa.’, kemudian hamba tersebut berbuat dosa kembali, dan kemudian berdoa (lagi) yaitu: Tuhanku, ampunilah bagiku dosaku. Maka Allah tabaraka wa ta’ala berfirman, ‘hambaku melakukan perbuatan dosa, dan dia mengetahui bahwa Tuhannya mengampuni dosa dan mengadzab perbuatan dosa’. Kemudian hamba tersebut berbuat dosa kembali, dan kemudian berdoa kembali yaitu: Tuhanku, ampunilah bagiku dosaku, maka Allah tabaraka wa ta’ala berfirman, ‘hambaku telah berbuat dosa, dan dia tahu , dia memiliki Tuhan yang Mengampuni dosa dan mengadzab perbuatan dosa. Lakukanlah apa yang kamu kehendaki, karena aku benar-benar telah mengampunimu’ ”.

Hadits diriwayatkan oleh Imam Muslim, dan begitu juga oleh Imam Bukhari.

Kartu Kredit Bagaikan Pisau bermata Dua

Seiring dengan banyaknya kasus mengenai penyalahgunaan kartu kredit, gagal bayar dan semakin banyaknya Para pemegang kartu kredit. Kasus-kasus tersebut mulai menimbulkan rasa kekhawatiran pemerintah, dalam hal ini khususnya BI. Bagaimana tidak, jumlah pengguna kartu kredit meningkat drastis dari tahun ke tahun. Belum lagi dengan kemudahan penerbitan kartu kredit baru dari sejumlah Bank. Dan ternyata, tidak bisa dipungkiri bahwa anak dibawah 17 tahun dengan mudahnya dapat memiliki kartu kredit. Pertanyaannya, Apakah kartu kredit ini akan berfungsi sebagai pengganti mata uang tunai atau penambah penghasilan? Apakah para pemakainya dapat menggunakan dengan bijak kartu kredit yang dimiliki? Apalagi diketahui bahwa banyak Bank yang menggunakan sistem bunga berbunga dalam sistem kebijakan kartu kredit masing-masing Bank. Apakah para penggunanya telah sadar akan konsekuensi penggunaan kartu kredit tersebut?

Kembali kepada fungsi kartu kredit itu sendiri, memang kartu kredit memberikan banyak dampak positif dan tidak sedikit pula memberikan dampak negatifnya. Hal ini terjadi karena adanya fungsi kartu kredit itu sendiri yang memberikan kemudahan kepada setiap penggunanya, sehingga tidak jarang para pemakainya melampaui batas dalam penggunaan kartu kredit tersebut yang merupakan dampak dari kurangnya perhitungan penggunanya. Sedangkan salah satu keuntungan dari kartu kredit itu sendiri secara nyata adalah kartu kredit dapat memberikan dana talangan dalam waktu relatif singkat untuk melakukan investasi baik investasi besar atau kecil, investasi mendesak, maupun investasi peluang. Dalam hal ini, yang perlu dicatat adalah jangka waktu pembayarannya hanya sebulan. Apabila lebih, itu pun dengan sistem cicilan dan bunga yang dikenakan lebih besar. Amat logis jika digunakan untuk investasi yang memiliki peluang besar di depan mata yang dengan sigap dimanfaatkan dengan bantuan penggunaan kartu kredit, apabila investasi berpeluang besar itu memberikan return yang besar dan cepat pula, bukan tidak mungkin itulah sisi positif dari kartu kredit. Tapi bayangkan jika sebaliknya. Kartu kredit dilakukan untuk investasi yang ternyata tak berpeluang memberikan return yang cepat dan besar. Bahkan memberikan return yang defisit. Amat sungguh merugikan. Kecermatan dan analisis amat diperlukan dalam hal ini.

Nah bagaimana dengan penggunaan kartu kredit untuk keperluan konsumtif? Menurut pandangan Saya, salah besar jika Anda menggunakannya untuk keperluan tersebut. Karena sisi konsumtif manusia tidak bisa dibendung jika manusia itu telah merasakan kenyamanan dengan apa yang ia miliki sebagai pegangan. Bukan tidak mungkin Anda dapat melampaui anggaran yang Anda miliki. Pandangan Saya ini berdasarkan pada aspek lain dari sisi kartu kredit yang memiliki kebijakan bunga ditambah bunga berbunga (bunga+bunga berbunga jika telat dan gagal bayar). Dan Saya berpandangan, tidak perlulah penggunaan kartu kredit untuk konsumtif karena peran kartu kredit untuk konsumtif dapat digantikan dengan kartu debit. Sudah jelas bahwa kartu debit bukan sistem pinjaman tapi sistem uang yang kita miliki di account kartu debit tersebut. Sehingga resiko gagal bayar menjadi nol, yang ada hanya resiko tabungan anda yang menjadi nol. Tapi hal buruk itu tidak lebih membahayakan dibandingkan dengan bunga berbunga kartu kredit dan dikejat-kejar depkoleptor.

Oleh karena itu, berdasarkan fakta lapangan dan faktor-faktor yang telah Saya jelaskan di atas, Bank Indonesia melakukan antisipasi dengan menerbitkan kebijakan baru dalam bidang kartu kredit. Kebijakan ini berfungsi untuk meminimalisir penyalahgunaan dengan mengetatkan syarat dalam menerbitkan kartu kredit yang dikeluarkan Bank. Kebijakan ini akan mulai diberlakukan pada 1 Januari 2013. Kebijakan ini meliputi batasan umur yang diatur minimal pemilik kartu kredit adalah orang yang telah berusia 21 tahun atau berusia 18 tahun tetapi sudah menikah. Hal ini diberlakukan demi mengurangi penyalahgunaan yang dilakukan oleh anak dibawah umur, yang belum mengerti apa fungsi kartu kredit yang sebenarnya dan peran apa yang sebenarnya dimiliki kartu kredit. Selanjutnya adalah kebijakan mengenai penghasilan, orang yang boleh memiliki kartu kredit adalah orang yang memiliki penghasilan di atas Rp. 3.000.000,-. Sehingga dengan adanya kebijakan mengenai penghasilan ini, diharapkan dapat mengurangi orang yang berpenghasilan rendah untuk bertindak konsumtif di atas pendapatan yang dimilikinya. Selain itu, dipertegas dalam kebijakan baru ini bahwa sesungguhnya orang yang memiliki penghasilan Rp. 3.000.000,- sampai dengan 10.000.000,- hanya diperbolehkan memegang dua kartu kredit (dua kartu kredit dengan setiap kartu kreditnya dari penerbit yang berbeda, tidak boleh lebih dari itu). Sedangkan jika penghasilan di atas Rp. 10.000.000,- maka diperbolehkan memegang lebih dari dua kartu kredit sesuai dengan penilaian Bank penerbit kartu kredit masing-masing. Yang ketiga adalah dibatasinya bunga kartu kredit yang tidak boleh lebih dari 3%. Untuk diketahui, bahwa saat ini bunga kartu kredit berada dikisaran 2,68%-4,5% untuk pembelian ritail menggunakan kartu kredit dan berkisar 3,25%-4% bunga untuk tarik tunai dari kartu kredit. Hal ini tergolong tinggi, belum lagi adanya kebijakan bunga berbunga. baik dari bunga kartu kredit yang dibungakan kembali maupun bunga kartu kredit yang timbul dari biaya administrasi dan lain-lain yang dikenakan bunga apabila telat bayar. Yang keempat adalah kebijakan mengenai plafon pinjaman, yaitu tiga kali gaji. Apabila lebih dari 3 kali gaji maka akan melebihi batas limit. Kebijakan ini dilakukan agar resiko gagal bayar dapat diminimalisir akibat besarnya pinjaman yang jauh melebihi besaran gaji yang didapat. Dan kebijakan selanjutnya adalah kebijakan yang akan diterapkan pada awal 1 januari 2015, mengenai jumlah digit pin yang digunakan, yaitu minimal 6 digit. Hal ini dimaksudkan untuk lebih meningkatkan safety pada pemegang kartu kredit itu sendiri. Sehingga para hacker (dalam hal ini yang berhubungan dengan pencurian uang dari kartu kredit maupun pencurian pembelanjaan menggunakan kartu kredit orang lain) aksinya dapat diminimalisir dan menyulitkan tindak kejahatannya.

Diharapkan dengan adanya kebijakan baru ini yang akan diberlakukan, semua tindak kejahatan maupun resiko dari gagal bayar dapat diminimalisir. Sehingga yang tadinya bermata dua, bisa menjadi bermata satu dengan fungsi dan tujuan yang optimal. walaupun dalam hal ini masih dipertanyakan seberapa besar eksistensi kartu kredit itu diperlukan. mengingat adanya kartu debit yang lebih tepat baik dalam penggunaannya maupun dalam penghimpunan dananya. Satu kalimat dari saya sebelum Anda menetapkan dan membulatkan tekad untuk membuat kartu kredit, “Sadarkan diri Anda, seberapa penting kartu kredit itu nantinya dalam kehidupan Anda”.

Hebatnya generasi muda Jerman, suka menggunakan transportasi umum dan sepeda. Tapi tunggu dulu, kita lihat apa alasan mereka. Mereka merasa nyaman dengan transportasi umum yang ada dan mudahnya mendapat rental sepeda. Good Job! Jadi apa yang harus dicontoh? Yup, benahi Transportasi umum, sediakan rental dan jalur sepeda dan dukung aktivitas Go Green yang ramah lingkungan..

Menurut survey dari Karlsruhe Institute of Tekhnology, Menunjukkan bahwa usia 18 sampai 30 cuma berkendara sejauh empat km, dan mereka malas memiliki mobil pribadi.. Nah loh„ 4 km mah deket bgt.. Bayangkan dengan volume berkendara anak muda Jakarta.. beda jauh, selain jaraknya yang tidak terpadu antara satu tempat dengan tempat kebutuhan lain, juga adanya kemacetan yang amat parah di ibukota.. So, mana realitas dari slogan “serahkan pada ahlinya”. Hingga detik menjelang pilkada, slogan tetap slogan.. Think smart, choose the right person to be the next Governor.

Mulai dari lingkup yang terkecil dulu Kota, Kabupaten, Provinsi, lalu Negara ;)

Sesuatu akan menjadi berharga apabila kita menghargainya

Gandy

Bank Syariah harus Berkembang dengan Bijak dan Jeli

Perkembangan Perbankan Syariah belakangan ini cenderung stagnan, boleh jadi banyak orang yang berbangga atas meningkatnya jumlah bank syariah dan lahirnya bank-bank syariah yang baru di Indonesia. Tapi pada dasarnya, itu semua sia-sia apabila belum dapat meningkatkan Market share nya yang masih relatif kecil dan belakangan ini cenderung turun. Kendala utama dalam Perkembangan Bank Syariah adalah belum ada sarana infrastruktur dan pendukung yang kuat seperti masih terbatasnya mesin-mesin ATM bank-bank syariah di Indonesia, (coba bandingkan dengan mesin ATM yang dimiliki bank konvensional). Walaupun dalam hal ini ada mesin ATM bersama, tapi ATM Bank syariah milik pribadi amat menjadi perhitungan untuk nasabah dalam menyimpan dananya. Masalah kedua adalah bank syariah belum bisa membuat brand image yang tepat di mata masyarakat. Sehingga masyarakat cenderung menyamakan Bank syariah dengan bank konvensional. Harus disadari, bahwa penyadaran kepada masyarakat amat penting dalam hal keutamaan syariah yang diwajibkan agama. Sehingga masyarakat benar- benar mengerti peran Bank Syariah yang sesungguhnya.

Perjalanan Bank Syariah di Indonesia cukup mengalami lika-liku hingga dapat berdiri tegak selama 11 tahun ini, mulai dari tahap awal, yaitu tahap awal lahirnya berdirinya bank Syariah di Indonesia, hingga Tahap perkembangannya. Dalam tahap perkembangannya, masih banyak butuh dukungan dari pemerintah dalam hal kebijakan dan birokrasi, agar bank syariah lebih leluasa dalam membuat inovasi. Di sisi lain, batasan yang boleh dilakukan oleh bank syariah juga harus jelas. Jangan sampai Bank Syariah mengambil “lahan” lain yang seharusnya menjadi bagian dari sektor lain. Sebagai contoh Fenomena Gadai Emas. Dari Fenomena itu, dapat kita lihat mulai terjadi penyimpangan pada Bank Syariah berkaitan dengan produknya. Bank Syariah harus dikembalikan lagi ke fungsi awalnya, yaitu menghimpun dan menyalurkan uang. Fungsi dasarnya adalah untuk mengatur peredaran dan stabilitas uang, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Jika bank mengeluarkan jenis produk gadai emas, itu sudah ada di pegadaian, selain bisa mematikan pegadaian, langkah tersebut juga semakin menonjolkan bahwa bank syariah benar-benar profit oriented. Kenapa tidak melakukan Ba’i assalam sekalian? Ba’i assalam juga dapat menghimpun dana seperti gadai emas. Apakah karena keuntungannya kecil dari Ba’i assalam dengan mengurusi para petani? maka Bank Syariah tidak mengeluarkan produk semacam itu? Kadang memang terasa berat mengeluarkan produk yang lingkupnya kecil dan target pasarnya lemah. Tapi itu merupakan tugas mulia dari bank Syariah apabila ingin benar-benar murni syariah.

Banyak yang harus dibenahi oleh bank syariah, mulai dari sistem perhitungan H1-1000 hingga sistem Profit and Lost Sharing yang masih belum digunakan Bank Syariah. Antisipasi itu boleh, tapi jangan kelewat antisipasi. Itu akan menciptakan “jurang” tersendiri dalam memajukan Bank Syariah. Sehingga di mata masyarakat, Bank Syariah disamakan dengan Bank Konvensional. Perlihatkanlah kepada masyarakat luas bahkan dunia kalau Bank Syariah itu BEDA, dan benar-benar menyejahterakan.

Mencari keuntungan boleh saja, tapi ingat tugas ‘mulia’ dalam islam untuk menyejahtrakan dan menghidupkan perekonomian masyarakat, dan jangan tergila-gila dengan keuntungan semata. Itulah keinginan dasar sehingga Bank Syariah dapat lahir pertama kali dan itu juga lah hal yang akan membawa Bank Syariah berkembang lebih luas dan lebih pesat.

Tulisan ini semata hanya ingin menyadarkan bahwa Bank Syariah itu memiliki peran besar dan jangan takut untuk lebih membuka diri dan menghadapi realita kenyataan kehidupan. Jangan hanya sebatas pada produk yang High Profit tapi juga hidupkan produk yang high social prosperity walaupun Low Profit. Karena Peran besar itu memiliki resiko yang besar pula, sehingga hasil dan perubahan besar tercipta. KEEP SPIRIT, KEEP MOVE ON AND INCREASE THE REAL INOVATION!